Beberapa catatan dan potret, Jatinangor, Sabtu, 14 Februari 2009.
Unpad Go Green ’09 – Satu Pohon, Satu Nama, Satu Hidup.
Acara ini diprakarsai oleh BEM KEMA UNPAD (Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Padjadjaran), sengaja digagas untuk mengingatkan kembali kecintaan dan kepedulian mahasiswa terhadap lingkungan yang mungkin sudah lama memudar
Cinta bersemi kembali
he-he-he… (Entah kebetulan atau bukan acaranya bertepatan dengan tanggal 14 Februari)
Unpad Go Green ’09 sendiri merupakan acara pembuka dari FORSI (Festival Olahraga dan Seni) UNPAD yang digelar dari tanggal 14 Februari hingga 7 Maret 2009.
Sebelum acara dimulai…
Pukul 8 WIB, para peserta dari berbagai fakultas mulai memenuhi pelataran GOR Pakuan, Jatinangor.

Keramaian di Pelataran GOR Pakuan Jatinangor
Acara dimulai…
Pelataran GOR Pakuan mulai penuh, semua kontingen sudah menempati tempat masing-masing dan undangan; Rektor UNPAD, pembantu rektor, perwakilan Kementerian Lingkungan Hidup, dan perwakilan WWF (World Wild Fund) Indonesia telah hadir.
Rangkaian acara dimulai dengan pementasan tari dari Jurusan Sastra Sunda, FASA UNPAD. Menyanyikan lagu kebangsaan, Indonesia Raya (merdeka!), kemudian diikuti dengan kata sambutan dari panitia Unpad Go Green ’09 - FORSI UNPAD ’09, BEM UNPAD, Rektor UNPAD dan pengucapan sumpah atlet. FORSI UNPAD 09 kemudian secara simbolis dibuka, dengan penyalaan obor oleh Rektor UNPAD, Ganjar Kurnia.

Rektor UNPAD
Mulai nanam pohon…
Seusai pembukaan FORSI UNPAD 09, penanaman pohon dimulai dengan penanaman pohon pertama oleh Rektor UNPAD, Ganjar Kurnia dan pengadaan tong sampah baru oleh Ketua BEM UNPAD, Gena Bijaksana. Mudah-mudahan mulai kini, orang-orang semakin sadar untuk membuang sampah pada tempatnya…

Mahasiswa UNPAD Tanam Pohon
Talk Show…
Nah… Ini dia, yang ditunggu-tunggu… Bukan karena ada pembagian konsumsinya lho hehe :D, walaupun perut memang tak dapat dibohongi, sedari tadi bernyanyi….
Panitia menghadirkan beberapa pembicara yang kompeten dibidangnya; diantaranya Mubiar Purwasasmita, dosen teknik kimia ITB yang juga ketua DPKLTS (Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda), perwakilan dari WWF Indonesia dan vokalis Pas Band, Yuki.
Talk Show dimulai dengan kata sambutan dari Deputi Kementerian Lingkungan Hidup, disusul pemutaran video WWF – Taking Action for A Living Planet.
Berikut beberapa catatannya:
Sesi ke-1, pembicara: Mubiar Purwasasmita, Ketua DPKLTS
- Sumber oksigen terbesar dunia berasal dari Indonesia.
- Pertumbuhan hutan yang seimbang dengan pertumbuhan penduduk global merupakan salah satu kunci kesejahteraan umat manusia.
- Indonesia adalah salah satu negara dengan pertumbuhan biomasa tercepat.
- Teknologi pengolahan air seperti bendungan atau waduk harus memerhatikan kelestarian hutan disekitarnya.
- Pertanian kita merupakan sumber penghasil karbondioksida terbanyak, karena menggunakan teknologi pertanian yang rendah.
- Kompos adalah bagian dari warisan leluhur, jauh sebelum bangsa Eropa datang ke Indonesia, yang seharusnya dikembangkan seterusnya kini.
- Pergesaran paradigma revolusi hijau; tanah sebagai media tanam menjadi tanah sebagai bioreaktor. Contoh: bercocok tanam dengan menggunakan pot.
Sesi ke-2, pembicara: perwakilan WWF Indonesia
- 70% produksi kertas kita masih menggunakan hutan alam, terutama berasal dari Sumatera.
- Sekitar 270.000 pohon di seluruh dunia terbuang menjadi sampah setiap hari akibat pemakaian kertas yang berlebihan.
- 2 rim kertas sama dengan 2 m² pohon.
Sesi ke-3, pembicara: Yuki, vokalis Pas Band
- Tahun 1983 – 1984, daerah Cihampelas, Bandung jauh lebih dingin dan sejuk dibandingkan sekarang. Bukti adanya perubahan temperatur di kota Bandung dewasa ini.
- Alam tetap menjadi salah satu sumber inspirasi terbesar dalam bermusik, khususnya menciptakan lagu.
Sesi tanya-jawab…
Tanya: Apa itu jual beli-karbon?
Jawab: CCB (Carbon Credit Bonds) sendiri merupakan nilai suatu hutan setelah diaudit, disertifikasi, diregistrasi, dan dinilai secara PSSR (Proveble Sustainable Recoverable Reserve). Suatu negara yang memiliki jumlah hutan tropis yang luas, dapat menjadikan aset tersebut sebagai suatu nilai tawar dalam dunia internasional.
Tanya: Permasalahan penggunaan mata air pegunungan yang potensial untuk kepentingan swasta?
Jawab: Harus ada pembatasan dan pengaturan pemanfaatan debit air yang akan diambil, tidak boleh melebihi batas jumlah air yang dimanfaatkan oleh tumbuhan dan hewan, agar tak menganggu dan merusak ekosistem hutan.
Catatan lain…
Kota Bandung dapat menjadi satu-satunya kota di dunia yang dapat mempertahankan temperaturnya tidak lebih dari 27 Cº, jika hutan pegunungan di sekitar cekukan Bandung, dijaga dan dirawat.
Masyarakat Jawa Barat sebenarnya telah lama menerapkan filosofi leuweung dalam mengelola hutan, dengan membagi daerah hutan pegunungan dalam 3 bagian;
1. 1/3 daerah teratas, dikenal dengan sebutan leuweung tutupan atau larangan, difungsikan sebagai hak alam yang tidak boleh digunakan.
2. 1/3 daerah ditengah, dikenal dengan sebutan leuweung titipan (hak kehidupan) disi oleh hewan dan tumbuhan.
3. 1/3 daerah terbawah, leuweung baladaheun (hak manusia) digunakan oleh manusia.
Kealaman (siliasih) > kehidupan (siliasah) > kemanusiaan (siliasih) > sinergi (siliwangi)
Beberapa foto lainnya…

Panitia FORSI UNPAD 2009

Ketua BEM UNPAD, Gena

Rektor UNPAD, Ganjar Kurnia

Mahasiswa UNPAD 1

Mahasiswa UNPAD 3

Mahasiswa UNPAD 4

UNPAD Go Green 2009

FORSI UNPAD 2009

FORSI UNPAD 2009
No forest, no water, no power, no future!
Tak ada hutan, tak ada air, tak ada kesejahteraan, tak ada masa depan!
Semoga engkau tumbuh dan besar, hijau dan meneduhkan, agar bumi tak lagi gersang tapi sejuk dan berseri karena hadirmu! :
Recent Comments